top of page

Lucia Trisni W — Tiga Puluh Tahun Lapangan, Satu Keputusan yang Berbeda

Lucia Trisni W telah mengukur burnout sejak sebelum kata itu populer di ruang rapat HR Indonesia Tiga puluh tahun lebih. Ribuan orang. Dari korporasi Fortune 500 lokal hingga pegawai pemerintah skala nasional. Dan di titik itulah ia memutuskan untuk membangun ulang cara mengukurnya — dari nol.

Ada ironi dalam perjalanan seorang praktisi yang sangat berpengalaman memilih untuk kembali ke rigor ilmiah yang ketat.

Tapi bagi Lucia, itu bukan ironi. Itu konsekuensi logis.

Setelah puluhan tahun menggunakan Maslach Burnout Inventory (MBI) di lapangan — mengandalkan instrumen standar global untuk membuat keputusan tentang individu Indonesia di tempat kerja Indonesia — ia mulai melihat sesuatu yang tidak bisa diabaikan: norma yang digunakan untuk menginterpretasikan skor dikembangkan dari data populasi yang berbeda. Menggunakannya secara langsung adalah membandingkan apel dengan jeruk — dengan keyakinan penuh bahwa keduanya adalah buah yang sama.

Bukan karena instrumennya buruk. Tapi karena konteks penggunaan tidak pernah diverifikasi.

Itulah yang mendorong lahirnya Maslach-Trisni Burnout Inventory (M-TBI): adaptasi bahasa, validasi konstruk via Confirmatory Factor Analysis, dan penyusunan norma berbasis sampel Indonesia. Dipublikasikan di jurnal terakreditasi Sinta 2 pada 2022 — setelah lebih dari satu dekade akumulasi riset yang membangunnya lapis demi lapis.

Bukan proyek satu malam. Bukan pula sekadar terjemahan yang diberi nama baru.

M-TBI sudah digunakan di lapangan: screening burnout guru skala besar bersama Dinas Pendidikan Bandung, riset burnout pada leaders PT KAI yang diintegrasikan dengan pengukuran executive function, hingga assessment lintas industri. Instrumen yang baik dibuktikan di lapangan — bukan hanya di jurnal.

Ada satu dimensi burnout yang hampir tidak pernah dibicarakan di ruang rapat — dan inilah yang menjadi kekhasan perspektif Lucia.

Burnout memengaruhi fungsi kognitif.

Riset yang ia lakukan bersama Radboud University Belanda menunjukkan korelasi antara burnout dan penurunan performa pada tes neuropsikologis: memori, atensi, dan fungsi bahasa. Orang yang burned out bukan hanya kelelahan secara emosional — kapasitas berpikir jernihnya benar-benar terdampak.

Implikasinya lebih luas dari sekadar wellbeing: ini adalah masalah kesiapan kepemimpinan, performa organisasi, dan kualitas pengambilan keputusan.

Tiga hal yang menjadi fokus profesional Lucia:

Pengukuran yang benar-benar kontekstual. Instrumen yang valid secara psikometrik di satu populasi belum tentu valid di populasi lain. Norma yang relevan bukan kemewahan — ia adalah prasyarat interpretasi yang adil.

Burnout sebagai fenomena kognitif, bukan hanya emosional. Intervensi yang tidak menyentuh dimensi executive function akan selalu tidak tuntas. Ini bukan argumen akademis — ini yang Lucia lihat berulang kali di lapangan selama tiga dekade.

Praktisi sebagai produsen pengetahuan, bukan hanya konsumen. Yang membedakan M-TBI dari banyak adaptasi instrumen lain adalah bahwa ia lahir dari pertanyaan seorang praktisi yang tidak bisa diam — bukan dari agenda akademis semata.

CLOSING / CTA

Lucia bergabung dengan Anvesana Research Institute sebagai Senior Researcher sejak 2024 — membawa tiga puluh tahun pengalaman lapangan ke dalam ekosistem riset yang serius membangun cara mengukur psikologis yang lahir dari — dan diuji untuk — konteks Indonesia. Jika kamu bekerja di HR, konseling, layanan kesehatan kerja, atau riset — dan punya pertanyaan tentang pengukuran burnout atau integrasi executive function dalam asesmen — Ini percakapan yang perlu lebih banyak orang terlibat.

Lucia Trisni W, S.Psi., MSi., Psikolog | Senior Researcher | Anvesana Research Institute

 
 
 

Comments


Mari Kolaborasi!

1.png

Anvesana Research Center

Yogyakarta, Indonesia

No. Telp

Email

Instagram

Practical Science

#Creating 

© 2025 by Anvesana Research Institute

bottom of page